• Ketua Persit KCK Koorcab Rem 151 PD XVI/Pattimura Bagikan Hadiah Kepada Juara Lomba

  • Persit KCK Koorcab Rem 151 PD XVI/Pattimura Kunjungi Persit Cabang Kodim Ambon

BERKARYA MELALUI TENUN, DEMI MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Posted by: | Posted on: January 22, 2018

Saya adalah istri dari Prajurit Kepala, Elias Luturmas, yang sehari-hari berdinas di Kompi Senapan A Yonif 734/Satria Nusa Samudra, Saumlaki. Kami dikaruniai dua orang putra-putri. Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ibu saya seorang petani dan ayah saya sebagai kuli bangunan. Namun, justru dari kesederhanaan inilah kami termotivasi untuk berwirausaha, yaitu membuat kain tenun. Dari hasil tenun inilah akhirnya saya dan saudara-saudara saya bisa menyelesaikan studi mulai dari bangku pendidikan SD sampai Perguruan Tinggi. Teknik menenun sangatlah rumit dan juga membutuhkan proses yang cukup memakan waktu, tetapi mau tidak mau, ibu saya harus terus bekerja membuatnya, karena jika tidak melalui penjualan kain-kain tenun tersebut, bagaimana kami sekeluarga bisa mengisi perut dan mengeyam pendidikan. Alasan yang sangat mendasar inilah yang mendorong kami untuk tetap berjuang keras bahkan dengan susah payah belajar membuat tenun, apalagi nilai jual kain tenun saat itu sangat rendah di kalangan masyarakat setempat.
Seakan tidak terpengaruh dengan kondisi sulit yang melilit, kami terus bekerja membuat tenun. Saya sendiri mulai belajar tenun sejak duduk di bangku pendidikan SD kelas 3 dan di masa kanak-kanak saya sudah bisa melakukan ketrampilan tersebut dengan sangat cekatan. Waktu terus berlalu dan akhirnya Tuhan berkehendak lain, yaitu ayah kami meninggal. Saat itu saya masih kuliah semester 3, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan studi saya di Perguruan Tinggi. Namun, ibu tetap memaksa dan mendukung saya untuk terus kuliah. Setiap waktu ibu selalu mengatakan kepada saya kalau ia tetap mampu untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Semangat juang dan ketabahan ibu memotivasi saya untuk berkomitmen bahwa saya harus terus belajar dan menyelesaikan studi sampai selesai. Dan waktu terus berjalan. Saat bulan Desember yang lalu, ibu saya menelepon dan meminta saya pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga. Tetapi saat itu saya katakan kepada ibu kalau saya tidak bisa pulang justru karena saya sayang ibu. Saya sampaikan alasannya karena semata-mata saya tidak mau menyusahkan ibu yang nantinya harus memutar otak bagaimana mendapatkan biaya untuk ongkos saya pulang. Mendengar penuturan saya, ibu menangis dan saya terus memberi semangat untuk menenangkannya. Ibu terus berjuang dan bekerja keras membuat tenun demi membiayai sekolah anak-anaknya. Sedapat mungkin saya membantu ibu untuk membuat tenun, disamping saya juga bekerja ikut orang diluar, supaya dapat membantu meringankan beban orangtua dalam membiayai studi saya sampai tuntas. Akhirnya perjuangan dan airmata ibu dan keluarga tidak sia-sia. Saya berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Pattimura Ambon dengan menyandang gelar Sarjana Pertanian. Selesai wisuda saya pulang ke Saumlaki, dan rupanya Tuhan sudah merencanakan semuanya, saya bertemu dengan calon suami saya di Pelabuahan Saumlaki. Akhirya kami pun mulai merajut kasih sampai ke pernikahan. Konsekuensi menjadi pendamping seorang prajurit pun harus saya jalani. Meskipun awalnya kami menjalani hidup yang sangat sederhana sekali, namun saya tetap semangat mendampingi suami dimanapun bertugas, baik dalam susah maupun senang. Saya bersyukur bahwa rencana Tuhan dalam hidup rumah tangga kami sangat indah, dan sungguh-sungguh nyata bagi saya dan keluarga bahwa pertolongan Tuhan selalu ada menolong kami baik suka maupun duka. Inspirasi membuat karya tenun ini juga saya dapatkan dari Ibu mertua saya yang juga menambah penghasilannya dengan menenun. Dari hasil menjual kain-kain tenun tersebut, saya dapat membantu suami menambah penghasilan keluarga, disamping setiap hari saya juga bekerja sebagai petugas penyuluh pertanian di Dinas Pertanian, untuk memberi semangat dan motivasi kepada para petani agar selalu giat bekerja dan pantang menyerah. Akhirnya, menutup kisah saya, ada satu pelajaran berharga disepanjang pengalaman hidup saya b├ęsama keluarga, yaitu selalu andalkan Tuhan dalam segala hal di kehidupan kita sehari-hari. Semoga semangat dan kerja keras saya dapat menjadi pembelajaran hidup bagi seluruh ibu Persit dimana pun mendampingi suami, bahkan di daerah terpencil sekalipun, untuk cerdas memanfaatkan peluang dengan potensi & talenta yang Tuhan berikan. Untuk Persit Kartika Chandra Kirana, teruslah berkarya!!





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *